Selamat datang di Blog Saya....

Jangan Lupa Tinggalkan Comment Anda...

Senin, 04 Januari 2010

Sop Buntut 62000

oleh : Wahyu Novyan
20 Oktober 2009
Buat Anda penggemar Sop Buntut, mungkin cerita ini bisa jadi pelajaran.
Malu bertanya, abis deh uangnya…

Siang itu, aku tiba di Bandara Internasional Soekarno-Hatta Jakarta, transit menuju Kota Padang. Ku lihat jam menunjukkan pukul 14.30 WIB….”hmm, pesawatku baru jam 16.30WIB, masih dua jam lagi,”batinku. Terpikir juga, perutku masih belum diisi nasi hari ini. Tadi pagi Cuma sepotong telur ceplok dan segelas teh hangat aja yang jadi teman sarapanku. Maklum, aku lagi berstatus BULOK=Bujang Lokal! Istri dan kedua jagoan cilikku, untuk sementara ku tinggal di Rumah Mertuaku di Mojokerto.

Kembali ke Soekarno-Hatta.
Sambil mengirim SMS ke beberapa rekan, aku melirik sebuah Restoran. “Wah ini local punya neh…cocok ama kondisi perut+kantong,” batinku. Jujur, aku gak terlalu doyan makanan fast food ala barat. Meskipun kalo terpaksa, dan gak ada pilihan lain, ya sikat aja.
Setelah celingak-celinguk sebentar dari luar, aku pun memilih masuk ke resto tersebut. Tas dan semua gembolanku (baca: barang bawaan) ku taruh di meja. Ku panggil seorang waiter, Tanya menu. Si waiter menjawab singkat, “langsung pesan aja pak”.
Radar perutku pun membimbingku ke meja display makanan. Mataku segera tertuju ke mangkuk berisi sop buntut. “Mbak, saya sop buntut satu ya. Pakai nasi. Minumnya es jeruk,” sahutku kepada penjaga. Aku pun menuju kasir. “berapa, Mbak?” sergahku segera. Nampaknya perutku udah gak bisa diajak kompromi. Sejurus kemudian aku sayup-sayup mendengar si kasir menjawab pertanyaanku tentang harga, tapi kurang jelas. “Berapa, Mbak?” ulangku. “Enam puluh dua ribu, pak,” ulangnya.
“Hah! Enam puluh dua ribu,” batinku setengah tidak percaya. Buru-bur uku membayar, karena yang antre di kasir cukup banyak.
Ku bawa makanan ke mejaku. Aku periksa struk belanja makananku tadi. Ya, benar, disitu tercantum enam puluh dua ribu. Empat puluh ribu sop buntutnya, enam belas ribu, es jeruknya, enam ribu nasi putihnya. “Glek…mahal amat!” Ku perhatikan baik-baik, apa istimewanya sop buntut satu ini. “Biasa!” Ku perhatikan juga es jeruk dalam gelas plastik. “Ya, ampun…es jeruk Cuma segini ini enam belas ribu..”
…….
Sebelum nafsu makanku hilang karena harga yang mengejutkan, aku pun segera berdoa dan menyikat hidangan pesananku itu…
“Makanku harus terasa nikmat, supaya harga mahal ini terbayar di perut,” demikian batinku. Dan Alhamdulillah, emang jadi nikmat..

Sahabat, aku belajar satu hal, bahwa benar lah kata pepatah, Malu bertanya, sesat di tengah jalan. Dalam konteks ini, malu bertanya abis deh uangnya…he, he, he…

Kadang, asumsi saja jelas tidak bisa jadi pegangan yang baik.
Aku tadi jelas berasumsi, bahwa resto local ini, dengan tampilan yang benar-benar biasa, tidak seperti lounge di sebelahnya yang berkesan mewah, akan menghadirkan hidangan dengan harga ‘cukup’. Aku paham lah bahwa membeli makan di bandara pasti lebih mahal. Namun jujur, aku gak menyangka semahal sop buntut tadi. Lha wong aku biasa di bandara membeli makanan fast food ala barat. Dan harganya paling Cuma sepertiga atau maksimal setengah harga yang kubayar tadi.
Any way, aku dapat pelajaran baru kan…
It’s ok…lain kali lebih hati-hati lagi dalam menentukan pilihan. Dan ingat, jangan tertipu penampilan luar!

Sukses selalu buat kita semua
Amiin

Tidak ada komentar:

Posting Komentar