oleh Wahyu Novyan (catatan) 24 Oktober 2009 jam 14:04
24 Oktober 2009, dini hari
Indra, namanya. Pemuda berbadan subur asal Jakarta ini sudah 2 pekan lebih bergabung sebagai relawan Aksi Cepat Tanggap-ACT di bencana Gempa Sumatera Barat. Ketika ditanya seputar motivasinya menjadi relawan di bencana ini, ia menjawab enteng: “Pengen membantu para korban”
Budiarna Nur Rochmad, mahasiswa asal Unair Surabaya pun demikian. Ketika gempa mengguncang, Kak Budi, panggilan akrabnya langsung mendaftarkan dirinya sebagai relawan bersama Lembaga Manajemen Infaq (LMI). Dengan sejumlah pengalamannya di bencana-bencana lainnya seperti Gempa Jogja dan tsunami Pangandaran, Budi spontan terpanggil untuk membantu korban gempa Sumbar.
Hal senada dengan Dodi Kurniadi. Bujangan asal Ngawi ini pun spontan bergabung menjadi relawan LMI di gempa Sumbar. Bahkan Dodi bersedia meninggalkan kesempatannya bekerja di sebuah project besar di Papua demi panggilan jiwa tersebut. Dengan sejumlah pengalamannya di lokasi bencana, Dodi memang bisa memberikan banyak bantuan bagi para korban bencana.
Ada pula yang heroic. Seperti yang dilakukan oleh Ali Badri, relawan asal Pandeglang Banten. Ia dan kawan-kawannya di Badak Offroad berangkat melalui jalan darat dengan membawa 2 mobil offroad 3000cc. “Kami berangkat berlima dengan kawan-kawan. Dengan dua mobil. Lumayan perjalanan darat 4 hari. Alhamdulillah bisa bergabung dengan relawan lain disini,” ujar Ali Badri. Bahkan Ali dengan timnya sempat melakukan aksi heroic dengan melakukan aksi evakuasi longsor di padang panjang. Padahal saat itu polisi pun sudah angkat tangan.
Ada lagi. Awaluddin. Bapak dua anak asal Manado, yang begitu bersemangat datang ke Sumatera Barat untuk menjadi relawan. Pria tinggi besar ini sampai rela meninggalkan istri dan anak-anaknya demi menjadi relawan. “Bagi saya, menjadi relawan adalah semacam panggilan jiwa,”tegas Awaluddin.
Jujur, saya pun semakin lama berkecimpung dalam dunia kerelawanan, juga merasakan hal yang serupa. Seolah ada emotional bonding, ikatan emosional antar relawan. Dengan latar belakang yang berbeda-beda, para relawan bisa bersinergi dalam niatan mulia: MEMBANTU MERINGANKAN BEBAN PARA KORBAN BENCANA.
Relawan memang sebuah panggilan jiwa. Panggilan bagi jiwa-jiwa perkasa yang senantiasa siap sedia menolong dan membantu sesama. Kapan saja, dimana saja. Let’s Care to Share.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar