24 November 2009 jam 10:47
Di sebuah daerah terpencil,
di bilangan Indonesia bagian timur,
Orang bilang, disitu termasuk daerah tertinggal,
Banyak anak menderita kurang gizi dan bahkan…busung lapar
Ali, namanya. Bocah kecil usia 3 tahun itu resah. Ya. Nampak dari wajahnya yang tirus, dengan tulang pipi yang menonjol. Ali tengah menanti sesuatu. Ya. Sesuatu yang benar-benar diharapkannya.
+++++++
Tadi malam, Bono, Bapak Ali berkata: “Ali, besok insya Allah kita akan kedatangan rejeki. Kita akan pesta sate kambing atau sapi. Kamu mau nggak?”
“Wah, sate ya? Mau, mau, Pak!” tukas Ali Girang.
“Memang besok ada apa Pak?”
“Besok itu kan, hari Raya Qurban, Nak. Para muslim yang mampu diperintahkan untuk berqurban, dengan memotong kambing, sapi atau kerbau. Dan akan dibagi-bagikan kepada saudara-saudara muslim yang lain, khususnya yang kurang mampu,” jelas Bapak Ali.
“Asyiik…aku udah gak sabar nunggu besok, Pak” Ali benar-benar senang.
+++++
Ali kecil masih terus saja sabar menanti. Sedari pagi, sepulang sholat Idul Adha di lapangan desanya, Bapak Ali pamit keluar rumah. Katanya mau bantu-bantu panitia masjid desa, sembelih hewan qurban.
Wajah pucat bocah itu menggambarkan pengharapan yang teramat sangat. Daun pintu gubug reotnya pun, seolah merasakan hal yang sama, sesekali berderit serak berhimpitan dengan lantai cor-coran kasar, akibat dorongan angin. Daun pintu yang terbuat dari triplek bekas itu, sama lunglainya dengan tubuh kurus Ali; sama rentannya.
Matahari bergeser perlahan mendekati sejajar dengan ubun-ubun. Hari semakin terik. Bono, Bapak Ali belum juga kembali. Resah. Ali beringsut ke belakang rumah.
Ifah, Emak Ali masih merapikan bagian belakang rumah, yang berhimpitan dengan bibir sebuah kali kotor, yang sudah 2 bulan lebih mengering akibat kemarau panjang.
“Mak, aku lapar. Mau makan sate,” ujar Ali lirih.
“Sabar ya nak. Bapakmu kan sedang membantu panitia qurban di masjid desa. Insya Allah nanti pulang bawa daging qurban, buat sate. Lagi pula sekarang Emak nggak ada uang untuk belanja makanan, “ balas Ifah menenangkan putra tunggalnya.
“Tapi Bapak kok dari tadi belum pulang?” sergah Ali tidak sabar. Perutnya sudah tidak bisa diajak kompromi.
“Iya, mungkin hewan qurban yang disembelih banyak. Jadinya lama. Sabar ya, Li,” tukas Ifah.
“Ayo kita sholat zhuhur dulu. Setelah itu, kamu tidur siang aja ya, sambil nunggu Bapakmu pulang,” ajak Ifah pada anaknya.
++++
Siang berganti sore. Menjelang maghrib, Bono belum ada tanda-tanda kembali pulang.
Ali semakin resah. Dipeganginya perutnya yang kembung dengan air putih, yang sedari tadi diseruputnya banyak-banyak, demi berkompromi dengan rasa lapar.
Sayup-sayup, terdengar langkah seorang dewasa menuju gubug reot Ali.
“Bapak!!” pekik Ali kegirangan.
Secepat kilat ia sambut tubuh kusut Bono, Bapaknya, sembari dicari-carinya bungkusan daging qurban.
“Mana, Pak daging qurbannya?”pinta Ali.
Bono, lelaki berusia 40-an itu diam. Tiada kata yang meluncur dari bibirnya.
Wajahnya kusut. Menghitam akibat terpaan terik mentari berkepanjangan. Sekujur tubuhnya kotor berlumuran darah dan bebauan hewan sembelihan. Ia bergegas masuk rumah. Lemas. Ia selonjorkan pasrah tubuhnya di lantai cor-coran kasar.
“Ali..maafkan Bapak ya, nak. Hari ini kita belum dapat rejeki sate qurban,” ujar Bono memulai penjelasan.
“Ternyata, masjid kita hanya menghimpun sedikit hewan qurban. Jauh lebih sedikit dibandingkan tahun lalu yang mendapat sumbangan dari beberapa lembaga amil zakat di pulau Jawa. Padahal warga yang antre sangat banyak. Lebih banyak dari tahun lalu,” lanjut Bono lirih. Lirih sekali suaranya, seperti menahan pedih.
“Sebenarnya, Bapak tadi dapat jatah daging qurban, karena bantu penyembelihan. Tapi warga yang antre berebut, dan jatah punya kita ada yang merebut…. “
Suara Bono terhenti…
Sesegukan ia..
Tercekat oleh tangis pilunya…
“Maafkan Bapak ya, Nak….”
Hari itu, Bono, Ifah, dan Ali terpaksa menutup hari dengan berpuasa makan. Karena memang tiada makanan yang tersedia. Berharap ada daging qurban yang menjadi hak mereka, para dhuafa. Dan ternyata, harapan itu kini hilang tak bersisa.
(Sebuah perenungan kecil, Pagi hari, 24 November 2009/ 7 Dzul Hijjah 1430 H. Nama yang tertera disini bukanlah nama sebenarnya.)
Saudaraku, adakah diantara kita semua yang berkenan untuk memenuhi harapan para dhuafa tentang daging qurban? Mereka disana berpacu dengan kefakiran dan pemurtadan yang senantiasa menghantui. Pilihan mereka tentang masa depan, terbatas. Sebatas pertanyaan lirih:”apa besok kita makan?”
Ayo, BerBagi Qurban untuk saudara-saudara kita di NTT, Papua, korban Bencana Sumatera Barat, dan Jawa Timur. Insya Allah, ibadah Qurban Anda akan jauh lebih bermakna.
Hubungi: 031-7048 4848, 031-599 8484
Rekening BerBagi Qurban LMI:
a/n LembagaManajemen Infaq
BCA no. 5200 2424 00
syariah Mandiri no. 008010 7373
Tidak ada komentar:
Posting Komentar