oleh:wahyu Novyan
20 Oktober 2009
Pagi ini, keceriaan Nampak di wajah polos anak-anak Ambung Kapur. Sebuah desa di Kecamatan VII Koto Sungai Sarik Kabupaten Padang Pariaman. Anak-anak korban bencana gempa ini mendapatkan pendidikan bernuansa ceria ala tim Trauma Healing Mobile Programme (THMP) LMI. Tim yang digawangi Kak Budiarna, Kak Choiri Setiawan, dan Kak puguh ini mengajak anak-anak Ambung Kapur keluar dari kesedihan dan trauma akibat gempa. Sekitar 20 anak usia SD berkumpul bersama Kak Budi dkk.
“Ayo, siapa yang berani untuk tampil mendongeng atau bercerita?” tantang Budi kepada bocah-bocah polos itu. Para bocah pun saling mendorong temannya dengan tersipu-sipu, khas gaya anak-anak.
Dan beberapa anak pun berani tampil. Diantara mereka ada yang bercerita tentang para pahlawan asal negeri minang, dan ada juga yang mendongeng cerita-cerita rakyat.
Menurut Kak Budi, pendekatan dongeng dan cerita dapat membuat anak mengekspresikan diri secara optimal. “Dan ketika si anak berani mengekspresikan diri, itu petanda baik, bahwa si anak mulai melupakan trauma akibat bencana yang dialaminya. Bila ini diterapi secara berulang-ulang, maka secara berangsur, kondisi psikologis anak akan membaik,” ujar Kak Budi.
“Kami juga sudah merencanakan beberapa pendekatan dalam menangani kasus trauma pada anak. Intinya membuat mereka ceria dan bergemberi kembali,” jelas relawan yang sudah berpangalaman menangani kasus trauma pasca bencana ini. “Kami sudah pernah menggunakan sejumlah pendekatan ini di kasus trauma pasca bencana Gempa Jogja-Bantul dan Tsunami Pangandaran. Alhamdulillah efektif. Tentu tetap membutuhkan penyesuaian-penyesuaian dengan konteks masyarakat tersebut,” imbuh Budi.
Mohammad Thamrin, siswa kelas enam SD 08 Ambung Kapur, merasa senang dengan kehadiran Kak Budi dkk. “Besok datang kesini lagi ya, Kak…” Pintanya manja.
Besok pagi, Rabu, 21 Oktober 2009, tim THMP LMI kembali akan beraksi ke sejumlah lokasi, mengajak para bocah bergembira ria, melupakan semua trauma. Semoga. (why)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar